Di usia 44 tahun, dokter spesialis di salah satu rumah sakit di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, itu menjadikan perjalanan bersepeda sejauh 151,81 kilometer dari Bone menuju Makassar sebagai hadiah untuk dirinya sendiri.
Perjalanan tersebut ditempuh dalam waktu sekitar 7 jam 46 menit, dimulai pada 30 September pukul 16.39 WITA dan berakhir sekitar pukul 02.00 WITA pada 1 Oktober.
Bagi Melda, perjalanan tersebut bukan sekadar tentang menaklukkan jarak. Gowes ekstrem itu menjadi bagian dari caranya merayakan usia baru sekaligus menjaga kebugaran.
"Saya berolahraga agar sehat. Kebetulan saya juga hobi naik sepeda," kata Melda.
Sebagai seorang ibu dari dua anak sekaligus dokter, aktivitas sehari-harinya tentu cukup padat. Namun, di tengah kesibukannya, bersepeda menjadi salah satu cara Melda menjaga kebugaran sekaligus menikmati waktu untuk dirinya sendiri.
Kisah perjalanan tersebut kemudian dibagikan Melda melalui akun Instagram pribadinya. Cerita tentang perjuangan menaklukkan ratusan kilometer, rasa lelah hingga dukungan keluarga dan tim itu pun mendapat respons dari warganet.
Sempat Hampir Membatalkan Perjalanan
Perjalanan Bone-Makassar itu ternyata nyaris batal sebelum dimulai.
Melda sempat menghadapi dilema setelah anak bungsunya tiba-tiba mengalami demam. Sebagai seorang ibu, kondisi anak menjadi pertimbangan utama sebelum memutuskan meninggalkan rumah untuk menempuh perjalanan panjang.Ia bahkan telah menyampaikan kepada tim bahwa keberangkatan akan dibatalkan jika kondisi sang anak tidak kunjung membaik.
Setelah kondisi anaknya berangsur membaik, Melda akhirnya memutuskan tetap berangkat. Dengan dukungan tim dan coach, ia mulai mengayuh sepeda menuju Makassar.
Tubuh Mulai Memberi Sinyal
Memasuki kilometer 63, perjalanan mulai menguras tenaga. Melda bersama tim melakukan pemeriksaan kondisi dan mengambil waktu untuk beristirahat.
Ia mengonsumsi buah dan mendapat bantuan stretching dari coach sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Tantangan semakin terasa ketika memasuki kilometer 86. Melda mengaku napasnya mulai tidak teratur, sementara detak jantungnya mencapai 168 kali per menit.
Ia kemudian beristirahat untuk memulihkan kondisi, melakukan relaksasi dan mengangkat kaki, sebelum mengonsumsi cokelat dan kembali melanjutkan perjalanan. Namun, perjalanan masih menyisakan puluhan kilometer.
Memasuki kilometer 103, udara malam semakin dingin. Tantangan lain muncul ketika Melda melewati kawasan Kappang, yang menurutnya menjadi salah satu bagian paling berat dalam perjalanan.
Kondisi medan yang dikelilingi tebing, jurang dan pepohonan membuat Melda mengaku sempat mengalami sesak napas. Kondisi tersebut membuatnya mulai merasa takut dan sangat lelah.
Dalam unggahannya, Melda menggambarkan dirinya sempat merasa seperti mengalami halusinasi akibat kelelahan dalam perjalanan.
Di tengah kondisi tersebut, coach terus mendampinginya melalui komunikasi radio. Percakapan melalui HT dilakukan untuk menjaga fokus dan semangat Melda agar tetap tenang menghadapi perjalanan.
Saat itu, detak jantungnya kembali tercatat sekitar 170 kali per menit.
Pesan Anak Jadi Penyemangat
Memasuki kilometer 132 di kawasan SPBU Maros, tubuh Melda mulai benar-benar merasakan kelelahan. Namun, dukungan keluarga kembali menjadi sumber kekuatannya.
Pesan dari sang anak yang mengingatkan, "Bunda pasti bisa, semangat Bunda," menjadi penyemangat bagi Melda untuk terus mengayuh.
Ia kembali makan dan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju Makassar.
Dengan kondisi tubuh yang semakin lelah, Melda akhirnya berhasil menyelesaikan seluruh rute dan mencapai Bandara Sultan Hasanuddin.Perjalanan sejauh 151,81 kilometer itu pun akhirnya tuntas.
"Alhamdulillah sampai di Bandara Sultan Hasanuddin. Finish, aku bisa dan mampu," tulis Melda dalam unggahannya.
Bukan Sekadar Menaklukkan Jarak
Bagi Melda, perjalanan tersebut bukan hanya tentang angka 151,81 kilometer.
Di balik jarak tersebut ada dilema seorang ibu yang sempat khawatir meninggalkan anaknya, perjuangan menghadapi rasa lelah, kondisi fisik yang beberapa kali menurun, hingga dukungan coach dan keluarga yang membuatnya mampu terus melanjutkan perjalanan.
Sebagai dokter, Melda sehari-hari berkutat dengan dunia kesehatan. Namun, melalui hobinya bersepeda, ia juga berusaha menjaga kesehatan dirinya sendiri.
Baginya, olahraga bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan bagian dari upaya menjalani hidup yang lebih sehat.
Perjalanan Bone-Makassar itu akhirnya menjadi kado ulang tahun ke-44 yang sangat personal.
Bukan hadiah yang dibungkus dengan kertas.
Melainkan 151,81 kilometer perjuangan, rasa lelah, dukungan keluarga, dan keberanian untuk menantang diri sendiri.
Di usia 44 tahun, Melda memilih merayakan hari lahirnya dengan satu pesan sederhana: tetap sehat, tetap bergerak, dan terus berani melangkah lebih jauh.
(Zul|7)
0 Comments: